Sastra
sebagai Pembentuk Karakter Remaja
Karya Ini Disusun untuk Mengikuti
Lomba Esai
“Sastra Bagi Remaja”
Di Susun Oleh :
Robby Novrizar Wijaya
I.
PENDAHULUAN
Sastra Indonesia merupakan cermin kehidupan Indonesia
dan identitas serta kemajuan peradaban bangsa Indonesia. Berbagai perubahan
yang terjadi di suatu negara, seperti ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta
teknologi informasi maupun akibat peristiwa alam merupakan bagian inspirasi di
dalam penulisan karya sastra. Sastra di Indonesia berkembang dengan sangat
cepat, terutama sastra remaja “teenlit” pada tiga-empat tahun terakhir ini.
Dunia perbukuan kita dibanjiri oleh novel-novel pop remaja berlabel teenlit tersebut.
Seperti yang dikatakan salah satu pakar sastra, Budi Darma bahwa hampir setiap
hari lahir 15 novel yaitu teenlit dan ciklit. Tak heran jika akhir-akhir ini
novel-novel teenlit penjualannya menduduki peringkat atas atau masuk dalam
kategori best seller di toko buku di berbagai kota untuk buku-buku jenis fiksi.
Satu sisi, ini merupakan gejala yang menggembirakan
karena dunia penulisan novel-novel lokal kembali menggeliat. Hal ini jelas
sebuah perkembangan positif. Cerita-cerita ringan yang umumnya bertema cinta
monyet itu, ternyata bukan saja memiliki banyak pembaca, namun juga telah
melahirkan banyak penulis baru. Kondisi yang ada sekarang ini memang sudah jauh
lebih baik daripada era delapan puluhan, misalnya, ketika itu dunia pernovelan
hanya 'dikuasai' oleh nama seperti : Mira W, Marga T, dan Maria A.Sardjono.
Karya mereka merajai rak toko-toko buku, berkali-kali dicetak ulang. Bahkan,
hingga kini, kita masih dengan mudah mendapatkan novel-novel tersebut di toko
buku.
Hikmah yang dapat dipetik dari realitas di atas,
ledakan penulisan buku-buku teenlit dan tradisi pembukuan naskah skenario dan
roman latar film, pada taraf tertentu dapat dikatakan sebagai gejala
kebangkitan yang cukup melegakan. Kesemarakkan karya fiksi serta menjamurnya
penulis-penulis muda adalah juga buah dari persinggungan kreatif dunia film dan
buku. Keadaan dinamis ini telah pula melahirkan pergeseran budaya yang
signifikan. Belantika baca-tulis yang semula dipinggirkan perlahan mulai
bergerak ke tengah dan diterima banyak lapisan. Remaja, lebih-lebih yang
terbiasa dengan tradisi penulisan buku harian dan majalah dinding, menjadi
semakin semangat berkreasi.
Ada segi positif, ada pula segi negatif. Segi negatif
seperti yang telah diungkapkan sedikit di atas kebanyakan teenlit bertemakan
kisah cinta walaupun tidak semua. Dan hal tersebut sangat digemari oleh para
pembaca remaja. Selain itu, budaya-budaya asing lebih sering ditonjolkan
daripada budaya lokal yang sangat bertolak belakang dengan keadaan negara kita
pada saat ini dan para pembacanya pun berasal dari seluruh kalangan.
Gejala munculnya pengaruh budaya asing pada media
elektronik, media masa, dan tempat umum menunjukkan perubahan perilaku
masyarakat dalam kehidupan masa kini. Kesemuanya menghasilkan karya sastra.
Gejala krisis moral yang berkaitan dengan kecenderungan negatif yang dialami
remaja kita saat ini sebagai akibat globaisasi itu berkaitan dengan adanya
novel-novel remaja dijadikan sebagai area bisnis, terutama untuk meningkatkan
penghasilan sampingan yang tentunya sangat menguntungkan. Dengan demikian,
novel-novel remaja –teenlit--berpengaruh dengan pembentukan karakter remaja.
Remaja, Karakteristik, dan Perkembangannya. Remaja
adalah anak-anak yang dalam fase mencari identitas. Di dalam KBBI pengertian
remaja adalah mulai dewasa. Memahami anak remaja diketahui mereka sedang
berkembang, senang meniru, dan kreatif. Dunia remaja itu adalah dunia yang
penuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Beberapa dari sebagian remaja
menyalurkan rasa ingin tahunya itu dengan eksis dalam bidang musik, sehingga
mereka bisa mengembankan apa yang mereka ingin ketahiu dari musik
tersebut. Adapula yang menyalurkannya
dengan menulis, dan lain sebagainya.
Bahasa merupakan hal yang sangat penting yang
berkaitan dengan makhluk hidup. Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan
manusia untuk berinteraksi dengan sesamanya. Dengan menguasai bahasa maka
manusia dapat mengetahui isi dunia melalui ilmu dan pengetahuan-pengatahuan
yang baru dan belum pernah terbayangkan sebelumnya. Bahasa juga merupakan
sebuah media penting penyampaian informasi yang digunakan manusia, baik secara
lisan maupun tulisan. Hal itulah yang menjadikan bahasa sebagai bagian hidup di
dalam bermasyarakat. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
bahasa ialah suatu hal yang memiliki peranan penting dalam kelangsungan hidup
manusia. Lewat bahasa, informasi untuk orang lain disampaikan. Maka dari itu
dibutuhkan suatu penggayaan di dalamnya agar tercipta suatu estetika di dalam
bahasa itu sendiri.
Sastra adalah suatu bentuk dan hasil
pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannnya dengan
menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sebagai seni kreatif yang menggunakan
manusia dan segala macam kehidupannya, maka ia tidak saja merupakan suatu media
untuk menyampaikan ide, teori atau sistem berpikir tetapi juga merupakan media
untuk ketiga hal tersebut. Sastra (dalam hal ini karya sastra anak) adalah
karya fiksi yang digunakan manusia sebagai medium untuk belajar. Belajar disini
adalah belajar memahami kehidupan, lingkungan, maupun memahami hal-hal yang
berhubungan dengan manusia itu sendiri.
Dengan memahami prinsip antara bahasa
dengan karya sastra, maka tidak mengherankan jika bahasa dapat digunakan dalam
membentuk karakter bangsa dalam karya sastra. Dalam hal ini pembaca yang
terfokus pada anak. Anak dapat memahami maksud yang terkandung dalam karya
sastra, melalui media bahasa yang disampaikan. Tentunya bahasa yang memang
mudah dipahami oleh anak seusia mereka. Apabila ditarik dengan objek kajian, yaitu
Budi yang Sombong, maka berdasarkan responden, cerita dalam karya sastra anak
tersebut dapat secara mudah dipahami oleh anak tersebut, sehingga pembaca dapat
mengambil segi positif dari perbuatan Buri yang Sombong yang akhirnya
dikalahkan oleh Tupai. Anak-anak dapat secara mudah mengambil pembelajaran.
Tanpa menggunakan bahasa, anak-anak dapat kesulitan memahami sesuatu hal.
Melalui bahasa inilah yang memberi pengajaran moral, dapat membentuk karakter
bangsa, karena pembentukan karakter dimulai dari usia dini, tidak semata-mata
instan diperoleh.
Para filosof yang diwakili oleh Ibnu
Sina, Ibu Maskawaih, Aristoteles, dan Roeusseu mengatakan bahwa pembiasaan
tingkah laku yang baik harus dilakukan terus menuerus dan disertai dengan
latihan semenjak kecil. Melalui pembiasaan dan latihanlah semua itu akan
tertancap kuat menjadi karakter atau watak dalam diri seseorang. Sementara itu,
Socrates dan Spenser memandang bahwa karakter atau tabiat harus dibentuk
melalui keteladanan akhlak (Khalid Ahmad Syantut, 2009: 6). Dalam hal ini jelas
sekali bahwa mengubah suatu moral bnagsa tidak serta merta, tetapi melalu
proses semenjak dini. Apabila sejak dini karakter dan watak yang baik telah
dibentuk, maka hal itu akan dibawa terus menurus hinga dewasa, bahkan hingga
tua.
II.
PEMBAHASAN/ISI
Telah diketahui bersama bagaimana
sebuah sastra terutama cerpen menjadi sebuah alat untuk membentuk karakter
seorang anak. Hal ini seluruhnya akan kembali kepada orang tua dan anak itu
sendiri, namun ada hal-hal yang mampu dilakukan untuk mendukung wacana ini.
Dalam mendekatrkan seorang anak terhadap minat membaca pastilah memerlukan
media, dahulu terdapat beberapa media yang mampu menampung hal ini, misal
majalah anak. Majalah anak kini sudah mulai tergeser dikarenakan peminat yang
menurun. Majalah Bobo atau Bocil yang dahulu sempat melejit kini tak tersisa
asapnya sekalipun. Seharusnya media ini harus lebih dipelihara, karena jauh
lebih bermanfaat dibandingkan dengan media lain. Majalah akan lebih fokus dalam
membimbing anak untuk belajar disamping juga sebagai hiburan, majalah anak akan
mampu menampung banyak hal, seperti dongeng, cerpen, ataupun puisi. Disamping
hal tersebut media ini mampu menampung apresiasi dari si anak untu mencoba
berkarya.
Selain melalui majalah, media cetak
lain pun mampu menampung hal tersebut. Semisal koran, koran mampu menerbitkan
beberapa rubrik anak. Memang beberapa koran telah memasukkan wacana ini, namun
kapasitasnya masih terlalu rendah. Beberapa koran hanya menampilkan rubrik
tentang anak satu minggu sekali, bahkan hanya memuat beberapa lembar saja.
Apabila hal ini mampu diberdayakan maka koran mampu menjadi pendamping dari
majalah anak.
Media cetak memang mampu menampung
banyak tentang hal yang berkaitan dengan pembangunan karakter anak. Namun ada
hal yang dapat menjadi sebuat terobosan lagi, yaitu gadget atau peralatan
elektronik. Televisi yang harusnya mampu menjadi media yang sangat relevan,
sekarang hanya berisi hal-hal yang kurang begitu bermanfaat bagi anak-anak.
Seharusnya media ini mampu lebih banyak memberi perhatian kepada anak.
Sastra anak juga mampu diberikan oleh
orang tua melalui gadget lain, seperti handphone. Hal ini dikarenakan handphone
bukan lagi menjadi barang mewah. Anak tingkat sd sudah tidak jarang yang
memiliki benda ini sebagai benda pribadi. Melalui handphone orang tua mampu
mengenalkan sastra anak kepada anak-anak mereka. Akses internaet akan lebih
mempermudah orang tua maupun anak-anak. Kemudahan akses internet jangan hanya
menjadi sebuah hiburan, namun dengan adanya peran orang tua jadikanlah akses
internet sebagai sebuah cara untuk memperkenalkan hal positif bagi anak-anak
mereka, salah satunya dengan mengakseskan sastra anak di dalam internet.
III. PENUTUP
Pengaruh sastra dalam pembentukan
karakter siswa tidak hanya didasarkan pada nilai yang terkandung di dalamnya.
Pembelajaran sastra yang bersifat
apresiatif pun sarat dengan pendidikan karakter. Kegiatan membaca,
mendengarkan, dan menonton karya sastra pada hakikatnya menanamkan karakter tekun, berpikir kritis, dan
berwawasan luas. Pada saat yang bersamaan dikembangkan kepekaan perasaan
sehingga siswa akan cenderung cinta kepada kebaikan dan membela kebenaran.
Pada kegiatan menulis karya sastra,
dikembangkan karakter tekun, cermat, taat, dan kejujuran. Sementara itu, pada
kegiatan dokumentatif dikembangkan karakter ketelitian, dan berpikir ke depan
(visioner).
Tingkat apresiasi sastra masyarakat
sangat terkait dengan pengajaran sastra di sekolah. Peran lembaga pendidikan
sangat penting untuk menumbuhkan sikap apresiatif terhadap karya sastra sejak
dini. Pengajaran sastra harus berjalan dengan baik, agar kemampuan dan sikap
apresiatif siswa terhadap karya sastra dapat tumbuh secara sehat.
Melalui pengajaran sastra, diharapkan
dapat berperan dalam membentuk karakter
yang positif pada diri siswa. Namun, pembentukan karakter siswa itu
tidak akan maksimal, atau bahkan gagal, jika pengajaran sastra gagal
menumbuhkan minat baca siswa pada karya sastra, dan mereka tetap tidak memiliki
sikap apresiatif terhadap karya sastra.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim. 2010. Pengembangan Pendidikan dan Karakter Bangsa.
Tersedia:
http://www.riaupos.co.id/spesial.php?act=full&id=56&kat=2.
Di akses pada tanggal 23 Juni 2018.
Deny Purwanto. 2011. Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran
Sastra.
melalui-pembelajaran-sastra.
Di akses pada tanggal 23 Juni 2018.
BIODATA
SINGKAT
Nama lengkapku Robby Novrizar
Wijaya, orang akrab memanggilku Bhee. Aku lahir 21 tahun yang lalu tepatnya di
Kabupaten Kaur 23 November 1996. Tercatat sebagai Mahasiswi Program Studi
Pendidikan Teknik Sipil Semester 8 di Universitas Bengkulu.
Saat usia Sekolah
Dasar aku tertarik untuk menulis puisi, hasil karyaku yang pertama berjudul
Ibuku (2008). Aku baru mulai kembali melanjutkan menulis puisi saat kelas 1
SMA, puisi yang bertemakan cinta (2012) di muat di mading sekolah. Sebenarnya
ada rasa penyesalan yang kurasakan, kenapa baru mulai menulis lagi setelah
beberapa tahun berlalu. Puisi yang kubuat terakhir kali mendapat juara 2 dalam
lomba tingkat kabupaten (2013). Dari puisi aku berlanjut tertarik untuk menulis
Cerita Pendek (Cerpen), pernah mencoba mengirimkan dan mengikuti lomba namun
sayang belum berhasil. Sebagian orang mengganggap aku gagal, tapi menurutku itu
hanya pecapaian yang belum sempurna. Karena yang mulanya cerita mogok ditengah
jalan, pada akhirnya dapat terselesaikan, membuat cerita yang utuh dari awal
sampai akhir, sudah merupakan suatu pencapaian yang baik bagiku.
Bisa dibilang aku
adalah seorang pemula, karenanya tata cara penulisan Cerpen kadang membuatku
bingung. Alur cerita yang kubuat kadang tak menentu. Penggunaan kata dan tanda
baca yang tepat juga seringkali membingungkanku. Ketertarikanku terhadap dunia
menulis atau sastra berawal dari kesenanganku membaca novel. “Rembulan
Tenggelam di Wajahmu” karya Tere-Liye adalah salah satu novel kesukaanku,
cerita yang menakjubkan.
Harapanku, tidak lagi
mengulangi hal yang sama yaitu berhenti untuk menulis. Untuk kedepannya, aku
berharap bisa lebih mahir dalam menuangkan segala perasaan, pengalaman serta
hayalanku dalam bentuk tulisan.
MEDIA SOSIAL
FB : Robby Novrizar Wijaya
IG :
robby231196
Line : robby231196ok
Wa : 089628442802
Tidak ada komentar:
Posting Komentar