Minggu, 24 Juni 2018

Sastra sebagai Pembentuk Karakter Remaja


Sastra sebagai Pembentuk Karakter Remaja

Karya Ini Disusun untuk Mengikuti Lomba Esai
“Sastra Bagi Remaja”

Di Susun Oleh :
Robby Novrizar Wijaya

I.       PENDAHULUAN
Sastra Indonesia merupakan cermin kehidupan Indonesia dan identitas serta kemajuan peradaban bangsa Indonesia. Berbagai perubahan yang terjadi di suatu negara, seperti ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta teknologi informasi maupun akibat peristiwa alam merupakan bagian inspirasi di dalam penulisan karya sastra. Sastra di Indonesia berkembang dengan sangat cepat, terutama sastra remaja “teenlit” pada tiga-empat tahun terakhir ini. Dunia perbukuan kita dibanjiri oleh novel-novel pop remaja berlabel teenlit tersebut. Seperti yang dikatakan salah satu pakar sastra, Budi Darma bahwa hampir setiap hari lahir 15 novel yaitu teenlit dan ciklit. Tak heran jika akhir-akhir ini novel-novel teenlit penjualannya menduduki peringkat atas atau masuk dalam kategori best seller di toko buku di berbagai kota untuk buku-buku jenis fiksi.
Satu sisi, ini merupakan gejala yang menggembirakan karena dunia penulisan novel-novel lokal kembali menggeliat. Hal ini jelas sebuah perkembangan positif. Cerita-cerita ringan yang umumnya bertema cinta monyet itu, ternyata bukan saja memiliki banyak pembaca, namun juga telah melahirkan banyak penulis baru. Kondisi yang ada sekarang ini memang sudah jauh lebih baik daripada era delapan puluhan, misalnya, ketika itu dunia pernovelan hanya 'dikuasai' oleh nama seperti : Mira W, Marga T, dan Maria A.Sardjono. Karya mereka merajai rak toko-toko buku, berkali-kali dicetak ulang. Bahkan, hingga kini, kita masih dengan mudah mendapatkan novel-novel tersebut di toko buku.
Hikmah yang dapat dipetik dari realitas di atas, ledakan penulisan buku-buku teenlit dan tradisi pembukuan naskah skenario dan roman latar film, pada taraf tertentu dapat dikatakan sebagai gejala kebangkitan yang cukup melegakan. Kesemarakkan karya fiksi serta menjamurnya penulis-penulis muda adalah juga buah dari persinggungan kreatif dunia film dan buku. Keadaan dinamis ini telah pula melahirkan pergeseran budaya yang signifikan. Belantika baca-tulis yang semula dipinggirkan perlahan mulai bergerak ke tengah dan diterima banyak lapisan. Remaja, lebih-lebih yang terbiasa dengan tradisi penulisan buku harian dan majalah dinding, menjadi semakin semangat berkreasi.
Ada segi positif, ada pula segi negatif. Segi negatif seperti yang telah diungkapkan sedikit di atas kebanyakan teenlit bertemakan kisah cinta walaupun tidak semua. Dan hal tersebut sangat digemari oleh para pembaca remaja. Selain itu, budaya-budaya asing lebih sering ditonjolkan daripada budaya lokal yang sangat bertolak belakang dengan keadaan negara kita pada saat ini dan para pembacanya pun berasal dari seluruh kalangan.
Gejala munculnya pengaruh budaya asing pada media elektronik, media masa, dan tempat umum menunjukkan perubahan perilaku masyarakat dalam kehidupan masa kini. Kesemuanya menghasilkan karya sastra. Gejala krisis moral yang berkaitan dengan kecenderungan negatif yang dialami remaja kita saat ini sebagai akibat globaisasi itu berkaitan dengan adanya novel-novel remaja dijadikan sebagai area bisnis, terutama untuk meningkatkan penghasilan sampingan yang tentunya sangat menguntungkan. Dengan demikian, novel-novel remaja –teenlit--berpengaruh dengan pembentukan karakter remaja.
Remaja, Karakteristik, dan Perkembangannya. Remaja adalah anak-anak yang dalam fase mencari identitas. Di dalam KBBI pengertian remaja adalah mulai dewasa. Memahami anak remaja diketahui mereka sedang berkembang, senang meniru, dan kreatif. Dunia remaja itu adalah dunia yang penuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Beberapa dari sebagian remaja menyalurkan rasa ingin tahunya itu dengan eksis dalam bidang musik, sehingga mereka bisa mengembankan apa yang mereka ingin ketahiu dari musik tersebut.  Adapula yang menyalurkannya dengan menulis, dan lain sebagainya.
Bahasa merupakan hal yang sangat penting yang berkaitan dengan makhluk hidup. Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia untuk berinteraksi dengan sesamanya. Dengan menguasai bahasa maka manusia dapat mengetahui isi dunia melalui ilmu dan pengetahuan-pengatahuan yang baru dan belum pernah terbayangkan sebelumnya. Bahasa juga merupakan sebuah media penting penyampaian informasi yang digunakan manusia, baik secara lisan maupun tulisan. Hal itulah yang menjadikan bahasa sebagai bagian hidup di dalam bermasyarakat. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa ialah suatu hal yang memiliki peranan penting dalam kelangsungan hidup manusia. Lewat bahasa, informasi untuk orang lain disampaikan. Maka dari itu dibutuhkan suatu penggayaan di dalamnya agar tercipta suatu estetika di dalam bahasa itu sendiri.
Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannnya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia dan segala macam kehidupannya, maka ia tidak saja merupakan suatu media untuk menyampaikan ide, teori atau sistem berpikir tetapi juga merupakan media untuk ketiga hal tersebut. Sastra (dalam hal ini karya sastra anak) adalah karya fiksi yang digunakan manusia sebagai medium untuk belajar. Belajar disini adalah belajar memahami kehidupan, lingkungan, maupun memahami hal-hal yang berhubungan dengan manusia itu sendiri.
Dengan memahami prinsip antara bahasa dengan karya sastra, maka tidak mengherankan jika bahasa dapat digunakan dalam membentuk karakter bangsa dalam karya sastra. Dalam hal ini pembaca yang terfokus pada anak. Anak dapat memahami maksud yang terkandung dalam karya sastra, melalui media bahasa yang disampaikan. Tentunya bahasa yang memang mudah dipahami oleh anak seusia mereka. Apabila ditarik dengan objek kajian, yaitu Budi yang Sombong, maka berdasarkan responden, cerita dalam karya sastra anak tersebut dapat secara mudah dipahami oleh anak tersebut, sehingga pembaca dapat mengambil segi positif dari perbuatan Buri yang Sombong yang akhirnya dikalahkan oleh Tupai. Anak-anak dapat secara mudah mengambil pembelajaran. Tanpa menggunakan bahasa, anak-anak dapat kesulitan memahami sesuatu hal. Melalui bahasa inilah yang memberi pengajaran moral, dapat membentuk karakter bangsa, karena pembentukan karakter dimulai dari usia dini, tidak semata-mata instan diperoleh.
Para filosof yang diwakili oleh Ibnu Sina, Ibu Maskawaih, Aristoteles, dan Roeusseu mengatakan bahwa pembiasaan tingkah laku yang baik harus dilakukan terus menuerus dan disertai dengan latihan semenjak kecil. Melalui pembiasaan dan latihanlah semua itu akan tertancap kuat menjadi karakter atau watak dalam diri seseorang. Sementara itu, Socrates dan Spenser memandang bahwa karakter atau tabiat harus dibentuk melalui keteladanan akhlak (Khalid Ahmad Syantut, 2009: 6). Dalam hal ini jelas sekali bahwa mengubah suatu moral bnagsa tidak serta merta, tetapi melalu proses semenjak dini. Apabila sejak dini karakter dan watak yang baik telah dibentuk, maka hal itu akan dibawa terus menurus hinga dewasa, bahkan hingga tua.

II.   PEMBAHASAN/ISI
Telah diketahui bersama bagaimana sebuah sastra terutama cerpen menjadi sebuah alat untuk membentuk karakter seorang anak. Hal ini seluruhnya akan kembali kepada orang tua dan anak itu sendiri, namun ada hal-hal yang mampu dilakukan untuk mendukung wacana ini. Dalam mendekatrkan seorang anak terhadap minat membaca pastilah memerlukan media, dahulu terdapat beberapa media yang mampu menampung hal ini, misal majalah anak. Majalah anak kini sudah mulai tergeser dikarenakan peminat yang menurun. Majalah Bobo atau Bocil yang dahulu sempat melejit kini tak tersisa asapnya sekalipun. Seharusnya media ini harus lebih dipelihara, karena jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan media lain. Majalah akan lebih fokus dalam membimbing anak untuk belajar disamping juga sebagai hiburan, majalah anak akan mampu menampung banyak hal, seperti dongeng, cerpen, ataupun puisi. Disamping hal tersebut media ini mampu menampung apresiasi dari si anak untu mencoba berkarya.
Selain melalui majalah, media cetak lain pun mampu menampung hal tersebut. Semisal koran, koran mampu menerbitkan beberapa rubrik anak. Memang beberapa koran telah memasukkan wacana ini, namun kapasitasnya masih terlalu rendah. Beberapa koran hanya menampilkan rubrik tentang anak satu minggu sekali, bahkan hanya memuat beberapa lembar saja. Apabila hal ini mampu diberdayakan maka koran mampu menjadi pendamping dari majalah anak.
Media cetak memang mampu menampung banyak tentang hal yang berkaitan dengan pembangunan karakter anak. Namun ada hal yang dapat menjadi sebuat terobosan lagi, yaitu gadget atau peralatan elektronik. Televisi yang harusnya mampu menjadi media yang sangat relevan, sekarang hanya berisi hal-hal yang kurang begitu bermanfaat bagi anak-anak. Seharusnya media ini mampu lebih banyak memberi perhatian kepada anak.
Sastra anak juga mampu diberikan oleh orang tua melalui gadget lain, seperti handphone. Hal ini dikarenakan handphone bukan lagi menjadi barang mewah. Anak tingkat sd sudah tidak jarang yang memiliki benda ini sebagai benda pribadi. Melalui handphone orang tua mampu mengenalkan sastra anak kepada anak-anak mereka. Akses internaet akan lebih mempermudah orang tua maupun anak-anak. Kemudahan akses internet jangan hanya menjadi sebuah hiburan, namun dengan adanya peran orang tua jadikanlah akses internet sebagai sebuah cara untuk memperkenalkan hal positif bagi anak-anak mereka, salah satunya dengan mengakseskan sastra anak di dalam internet.

III.   PENUTUP
Pengaruh sastra dalam pembentukan karakter siswa tidak hanya didasarkan pada nilai yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran sastra  yang bersifat apresiatif pun sarat dengan pendidikan karakter. Kegiatan membaca, mendengarkan, dan menonton karya sastra pada hakikatnya menanamkan  karakter tekun, berpikir kritis, dan berwawasan luas. Pada saat yang bersamaan dikembangkan kepekaan perasaan sehingga siswa akan cenderung cinta kepada kebaikan dan membela kebenaran.
Pada kegiatan menulis karya sastra, dikembangkan karakter tekun, cermat, taat, dan kejujuran. Sementara itu, pada kegiatan dokumentatif dikembangkan karakter ketelitian, dan berpikir ke depan (visioner).
Tingkat apresiasi sastra masyarakat sangat terkait dengan pengajaran sastra di sekolah. Peran lembaga pendidikan sangat penting untuk menumbuhkan sikap apresiatif terhadap karya sastra sejak dini. Pengajaran sastra harus berjalan dengan baik, agar kemampuan dan sikap apresiatif siswa terhadap karya sastra dapat tumbuh secara sehat.
Melalui pengajaran sastra, diharapkan dapat berperan dalam membentuk karakter  yang positif pada diri siswa. Namun, pembentukan karakter siswa itu tidak akan maksimal, atau bahkan gagal, jika pengajaran sastra gagal menumbuhkan minat baca siswa pada karya sastra, dan mereka tetap tidak memiliki sikap apresiatif terhadap karya sastra.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Pengembangan Pendidikan dan Karakter Bangsa. Tersedia:  
http://www.riaupos.co.id/spesial.php?act=full&id=56&kat=2. Di akses pada tanggal 23 Juni 2018.
Deny Purwanto. 2011. Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Sastra.  
melalui-pembelajaran-sastra. Di akses pada tanggal 23 Juni 2018.

BIODATA SINGKAT
Nama lengkapku Robby Novrizar Wijaya, orang akrab memanggilku Bhee. Aku lahir 21 tahun yang lalu tepatnya di Kabupaten Kaur 23 November 1996. Tercatat sebagai Mahasiswi Program Studi Pendidikan Teknik Sipil Semester 8 di Universitas Bengkulu.
Saat usia Sekolah Dasar aku tertarik untuk menulis puisi, hasil karyaku yang pertama berjudul Ibuku (2008). Aku baru mulai kembali melanjutkan menulis puisi saat kelas 1 SMA, puisi yang bertemakan cinta (2012) di muat di mading sekolah. Sebenarnya ada rasa penyesalan yang kurasakan, kenapa baru mulai menulis lagi setelah beberapa tahun berlalu. Puisi yang kubuat terakhir kali mendapat juara 2 dalam lomba tingkat kabupaten (2013). Dari puisi aku berlanjut tertarik untuk menulis Cerita Pendek (Cerpen), pernah mencoba mengirimkan dan mengikuti lomba namun sayang belum berhasil. Sebagian orang mengganggap aku gagal, tapi menurutku itu hanya pecapaian yang belum sempurna. Karena yang mulanya cerita mogok ditengah jalan, pada akhirnya dapat terselesaikan, membuat cerita yang utuh dari awal sampai akhir, sudah merupakan suatu pencapaian yang baik bagiku.
Bisa dibilang aku adalah seorang pemula, karenanya tata cara penulisan Cerpen kadang membuatku bingung. Alur cerita yang kubuat kadang tak menentu. Penggunaan kata dan tanda baca yang tepat juga seringkali membingungkanku. Ketertarikanku terhadap dunia menulis atau sastra berawal dari kesenanganku membaca novel. “Rembulan Tenggelam di Wajahmu” karya Tere-Liye adalah salah satu novel kesukaanku, cerita yang menakjubkan.
Harapanku, tidak lagi mengulangi hal yang sama yaitu berhenti untuk menulis. Untuk kedepannya, aku berharap bisa lebih mahir dalam menuangkan segala perasaan, pengalaman serta hayalanku dalam bentuk tulisan.

MEDIA SOSIAL
FB     : Robby Novrizar Wijaya
IG     : robby231196
Line  : robby231196ok
Wa    : 089628442802

Tidak ada komentar:

Posting Komentar