Minggu, 20 Mei 2018

Pemuda Sebagai Agent Of Chenge dalam Politik Milenial di Indonesia


Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarnao berkata “Berikan aku 10 pemuda, maka akan ku guncangkan dunia”, itu menunjukkan bahwa golongan muda (pemuda) memiliki peran yang sangat penting dalam setiap perubahan yang mewarnai negeri ini. Dimulai pada tahun 1908 yang ditandai dengan berdirinya Budi Utomo yang merupakan tonggak awal peran pemuda dalam mengawal perubahan bangsa, hingga pada tahun 1998 lewat gerakan mahasiswa, di mana golongan pemuda kembali mempersembahkan perubahan negeri ini lewat momentum reformasi yang sejalan mengarahkan bangsa ini pada episode baru kehidupan berdemokrasi.

Pemuda merupakan generasi penerus bangsa, yang kelak akan meneruskan tongkat estapet kepemimpinan bangsa. Pemuda adalah aset bangsa, sebagai garda utama untuk membangun tatanan baru sebuah bangsa, sesuai dengan mandat yang tertuang dalam UU No 40 Tahun 2009 Pasal 1 tentang kepemudaan bahwa dalam pembaruan dan pembangunan bangsa, pemuda mempunyai fungsi dan peran yang sangat strategis sehingga perlu dikembangkan potensi dan perannya melalui penyadaran, pemberdayaan, dan pengembangan sebagai bagian dari pembangunan nasional.
Kondisi pemuda Indonesia saat ini, 50 persen dari penduduk usia produktif berasal dari generasi milenial dan pada tahun 2020 hingga 2030 diperkirakan jumlahnya mencapai 70 persen dari penduduk usia produktif (Badan Pusat Statistik, 2017). Lain dulu lain sekarang, pemuda saat ini yang seharusnya meneruskan estafet para pembaharu kemerdekaan seperti terlena dengan fasilitas yang tersedia pasca kemerdekaan yang susah payah diperjuaangkan dengan darah dan air mata. Generasi milenial memiliki ciri dan karakter yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya yaitu adanya penggunaan teknologi dan budaya pop/musik terlihat dari kehidupan generasi milenial yang tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment/hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini.
Fenomena pemuda saat ini sangatlah mengkhawatirkan, pemuda seolah kehilangan tujuannya, tingkat pendidikan saat ini memang sudah lebih baik dari tahun ketahun namun apakah karakter dari pemuda saat ini sepeti apa yang di ajarkan didalam kelas, sekolah yang sejatinya dapat membentuk karakter dan tunas bangsa ternyata tidak cukup mampu membentuk karakter anak bangsa, secara teori sangatlah mungkin terkuasai tetapi sikap dan mental nol besar.Padahal peran pemuda sebagai sosok yang muda, dinamis, penuh energi dan optimis, diharapkan dapat menjadi agen perubahan diharapkan bisa membawa ide-ide segar, pemikiran-pemikiran kreatif dengan metode thinking out of the box yang inovatif, sehingga dunia tidak melulu hanya dihadapkan pada hal-hal jaman old yang itu itu saja dan tidak pernah berkembang. Dengan kata lain pemuda diharapkan menjadi pemimpin masa depan yang lebih baik dari pemimpin masa kini. Pemuda diharapkan untuk menjadi  agent of change, yaitu pihak yang mendorong terjadinya transformasi dunia ini ke arah yang lebih baik melalui efektifitas, perbaikan dan pengembangan.
Ada lima karakteristik pemimpin yang baik yang harus ada dalam diri seorang Agent of  Change:
Yang pertama, visi yang jernih. Sebagai pemimpin, seseorang harus memiliki target yang jelas sehingga program kerja dapat disusun dengan baik dan dengan tahapan yang berkesinambungan karena arah yang dituju jelas. Pemimpin yang baik harus bisa menjelaskan ide dan konsep yang ada dalam pemikirannya secara jernih kepada orang lain dan terutama kepada anggota tim kerjanya. Saya pikir Albert Einsten benar, “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough”.
Yang kedua, berani mengambil tantangan untuk mencapai suatu target. Pada era orde baru, kebebasan berbicara dibungkam. Sementara saat ini, kebebasan berpendapat diatur undang-undang sehingga generasi milenial saat ini lebih berani berbicara apa adanya, berani menilai. Sebenarnya banyak anak muda yang sudah "melek" politik, namun tidak berminat terjun ke dalam sistem (Kompas.com, 2018). Padahal, anak muda bisa mengembangkan minatnya pada politik jika mau berkontribusi dalam partai politik. Jadi, jika partai politik banyak diisi anak muda, maka partai tersebut semakin kreatif, berani, juga banyak orang idealis.
 Yang ketiga, bersikap kritis dan analitis. Dengan kata lain, pemimpin yang baik harus selalu bernalar dan menggunakan akal sehatnya. Tidak ada hal yang ditelan bulat-bulat tanpa mengerti substansinya. Disini adalah tantangan para guru dalam merefleksi tentang cara mengajar mereka dalam mempersiapkan para siswa untuk dapat mempertahankan eksistensinya. Mereka tidak boleh berdiam diri saja. Karena, para pemuda ini kelak akan menjadi orang dewasa, akan menghadapi dunia yang penuh dengan tantangan dan permasalahan. Siswa ini yang akan menjadi pemimpin di masa depan, mesti dipersiapkan untuk menghadapi tantangan dan permasalahan hidup. Tantangan dan permasalahan inilah yang akan dihadapi oleh ‘pemikir’. Menurut Dimyati (1996) salah satu unsur ilmu pengetahuan adalah items, yakni ilmu pengetahuan yang berwujud berpikir rasional. Realisasi berpikir rasional tampak pada penggunaan kata, kalimat, alenea, rumus pemecahan masalah, ataupun symbol-symbol. Prasyarat untuk mewujudkan items tersebut adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, memikir dan melakukan observasi (3M+O). Dengan kata lain persyaratan dimaksud adalah kemampuan urtuk berpikir kritis dan kreatif.
Yang keempat, sarat akan pengetahuan dan memimpin dengan memberikan contoh, bukan hanya dengan instruksi. Ilmu pengetahuan merupakan salah satu kunci utama dalam membangun bangsa dan negara serta sebagai senjata ampuh untuk menaklukan tantangan masa depan. Ilmu pengetahuan bisa membantu memprediksi kejadian yang akan datang.  
Yang kelima, membangun hubungan yang kuat dengan orang-orang sekitarnya serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dengan kata lain, pemimpin yang baik harus memiliki integritas agar dapat dipercaya. Pentingnya bagi generasi milenial untuk membentengi diri perlu sikap yang tegas yaitu bijaksana artinya membuka diri terhadap perkembangan globalisasi, waspada, selektif artinya mampu memilih yang terbaik serta mempertahankan nilai-nilai pergaulan sesuai kepribadian bangsa dan menjalankan nilai-nilai agama.Maka dari itu perlu adanya kesadaran dari setiap individu tersebut, dan untuk bisa membentengi diri mereka masing-masing dari pengaruh negative dari era globalisasi pada saat ini yang merusak moral remaja atau bangsa kita ini. Menjadi remaja berarti mengerti nilai-nilai, yang berarti tidak hanya memperoleh pengertian saja tetapi juga dapat menjalankannya atau mengamalkannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral yaitu hubungan harmonis dalam keluarga, masyarakat, lingkungan sosial, perkembangan nalar, dan peranan media massa dan perkembangan teknologi modern. Karakteristik perkembangan moral antara lain: mulai mampu berfikir abstrak, mulai mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotetis, mulai tumbuh kesadaran akan kewajiban mempertahankan kekuasaan dan pranata yang ada, keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah, keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan, penilaian moral menjadi kurang egosentris, dan penilaian secara psikologis menjadi lebih mahal.
Pemuda dan semangatnya dibutuhkan sebagai agent of change dalam berbagai sektor, termasuk sektor politik. Selama masih ada yang namanya “negara”, politik juga akan selalu ada. Masalahnya, politik sudah terlalu lama terasosiasi sebagai suatu hal yang kotor dan karenanya dihindari banyak orang. Kata “politik” hampir identik dengan “perebutan kekuasaan demi jabatan dan uang”. Akibatnya, banyak anak muda berpotensi menghindari dan tidak peduli dengan politik. Namun sikap ini tanpa disadari secara tidak langsung membuat kondisi politik menjadi semakin buruk karena level of competition, baik dari sisi kemampuan maupun integritas, menjadi rendah untuk seseorang menduduki posisi strategis dalam lembaga-lembaga negara. Akibatnya orang-orang yang memegang kekuasaan dalam negara bukanlah orang-orang terbaik yang ada di negara tersebut, melainkan orang-orang yang memang dari awal masuk ke dalam politik dengan niat untuk semata-mata memperoleh jabatan dan kekuasaan demi uang atau kepentingan pribadi lainnya. Pada saat kancah politik dan lembaga negara dikuasai oleh orang-orang yang tidak berkualitas ini, semakin orang-orang yang berkualitas menjauhi area tersebut. Hal ini terjadi terus menerus dan menjadi lingkaran setan.
Generasi milenial harus bisa bertindak sebagai agent of  change dan memutus lingkaran setan tersebut. Pemuda harus tetap optimis dan tidak berhenti melakukan langkah-langkah perbaikan, termasuk dalam sektor politik. Pemuda harus mau peduli dengan kualitas politik negaranya dan berani terjun ke dalamnya. Karena perbaikan politik hanya akan terjadi pada saat orang-orang baik, profesional dan berintegritas masuk ke dalam politik.Tidak dapat disangkal bahwa politik sudah terlalu lama disalah gunakan oleh  orang-orang opportunist demi jabatan, kekuasaan dan uang semata. Tapi sesungguhnya ada dimensi lain dari politik, yaitu suatu alat dahsyat yang dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Apabila kita berpolitik dengan baik dan benar, maka kita dapat menjadikan dunia ini menjadi lebih baik.
Dengan demikian, pentingnya peran pemuda sebagai pelapor perubahan sekaligus fondasi bangsa dan sistem politik memiliki peranan yang utama untuk kedepannya agar dapat memperbaiki kesalahan sistem politik  pada era sekarang ini. Untuk itu peran pemuda sangatlah berharga demi terciptanya kelangsungan sistem politik menuju ke arah lebih baik lagi karena politik merupakan salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa dan negara.

Daftar Pustaka
Kompas.com. 2017. Generasi Milenial dan Tantangan Melek Politik. Tersedia: https:
//nasional.kompas.com/read/2017/04/17/18301731/generasi.milenial.dan.tanta
ngan.melek.politik. Diakses pada tanggal 18 Mei 2018
Badan Pusat Statistik. 2017. Statistik Pemuda Indonesia. Tersedia: https://www.bps.go.id/publication/2018/04/13/040941963dd0c2fe89ffcee6/statistik-pemuda-indone-sia-2017.html. Diakses pada tanggal 18 Mei 2018

Tentang penulis
Nama                           : Robby Novrizar Wijaya
Tempat tanggal lahir   : Tanjung Iman, 23 Novrizar Wijaya 1996
Alamat                        : Jalan Merpati 23 RT 4 RW2, Rawa Makmur
No Handphone           : 089628683948

Tidak ada komentar:

Posting Komentar